728 x 90

Cahaya Tauhid

Cahaya Tauhid
Cahaya Tauhid

Al-quran adalah merupakan kitab suci yang telah disempurnakan dan diturunkan kepada rasul terakhir Nabi besar Muhammad SAW dan merupakan petunjuk hidup ( Way of life ) bagi setiap manusia yang hidup di dunia.

Al-quran akan menjadi hidup apabila orang yang membacanya mempergunakan akal dan pikir, hal ini sesuai dengan hadis Rasulullah SAW : " Akal pikiran adalah sumber agamaku "

Allah SWT tidak berkata-kata dengan manusia melainkan melalui wahyu sesuai dengan firman Allah SWTdalam surat Asy Syuuraa (QS.42 ayat 51). Segala pertanyaan tentang kehidupan manusia di dunia dan alam semesta, bisa terjawab melalui dialog dengan Al-quran atau dengan kata lain kita berdialog dengan Allah melalui perantara Al-quran.

" Menyaksikan Dzat Allah sebelum mengucapkan syahadat adalah wajib bagi seluruh manusia "

Hal ini tersingkap sesuai dengan apa yang pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW saat menyaksikan Dzat Allah SWT pada waktu Isra' Mi'raj, berdasarkan peristiwa tersebut kita seharusnya mengikuti apa yang dilaksanakan oleh Beliau, karena setiap hamba Allah dapat melakukan Mi'raj (QS. 17 ayat 1) untuk menemui-Nya sesuai janji Allah dalam surat Al-Ankabut (QS.29 ayat 5).

Barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu, pasti datang. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

" ASYHADUALLA ILLAHAILLALLAH WA ASYHADUANNA MUHAMMADARUSULULLAH "
Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi Muhammad utusan Allah

Bersyahadat menurut Allah adalah melaksanakan suatu persaksian, hal ini tercantum di dalam Al-Quran : Surat Al-Ma'aarij - QS.70 ayat 33

" Wal ladziinahum bi syahaadaatihim qaaimuun "
Artinya : Dan orang-orang yang melaksanakan kesaksiannya

Dalam hal ini, persaksian tersebut bukan hanya sekedar ucapan melainkan memang harus dilaksanakan dengan cara menyaksikan atau perjumpaan dengan Dzat Allah SWT, seperti yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dan seluruh Rasul Allah serta para Nabi.

Namun, kebanyakan manusia, bahkan sebagian besar para ulama berpendapat bahwa pertemuan dengan Allah SWT tidak mungkin bisa dilaksanakan pada saat manusia hidup di dunia, tetapi hanya bisa terjadi setelah terjadinya kiamat dan saat di akhirat Kita buktikan dengan mengkaji firman Allah pada Surat Al-Kahfi - QS.18 ayat 103-105, yaitu :

" Katakanlah , " Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling rugi perbuatannya ?"

" Yaitu orang-orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedang mereka mengira bahwa mereka mengerjakan pekerjaan yang baik.

" Mereka itu ialah orang-orang yang kufur (ingkar) terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan terhadap perjumpaan dengan-Nya. Maka hapuslah amalan-amalan mereka. Dan kami tidak adakan timbangan bagi mereka pada hari kiamat."

Firman Allah SWT pada surat Al-An'aam - QS.6 ayat 31, yaitu :

" Sungguh merugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah, sehingga apabila datang kiamat kepada mereka dengan tiba-tiba mereka mengatakan "Alangkah besarnya penyesalan kami terhadap kelalaian kami pada Nya", sedang mereka memikul dosa-dosa mereka di atas punggungnya. Alangkah buruknya apa yang mereka pikul itu."

Kalimat : " Sungguh merugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah, sehingga apabila datang kiamat kepada mereka dengan tiba-tiba " adalah merupakan keadaan pada saat kita masih hidup di dunia dalam menghadapi akhir dari kehidupan kita (kematian).

Sedangkan bagi mereka yang berpendapat bahwa perjumpaan dengan Allah SWT hanya bisa terjadi di akhirat, mereka akan merasakan azab sesuai firman Allah dalam surat Al-An'aam - QS.6 ayat 30, yaitu :

" Dan kalau engkau melihat ketika mereka dihadapkan kepada Tuhan mereka, Allah berfirman " Bukankah ini benar ? " Mereka menjawab, " Sungguh benar demi Tuhan kami! ", Allah berfirman, " Maka rasakanlah azab ini disebabkan kamu mengingkarinya."

Sebagian besar dari orang yang beragama Islam di dunia ini, menjadi Islam karena keturunan dan mereka yakin bahwa itulah yang paling benar. Seperti yang tercantum dalam surat Al-Baqarah - QS.2 ayat 170, yaitu :

" Dan apabila dikatakan kepada mereka, " Ikutilah apa yang diturunkan Allah ", mereka menjawab, " Kami hanya mengikuti apa yang kami dapati dari bapak-bapak kami ", biarpun bapak-bapak mereka tidak mengerti sesuatu dan tidak dapat petunjuk."

Mereka itu bersyahadat mengikuti seperti yang dilakukan bapak-bapak mereka, yaitu cukup dengan hanya mengucapkan secara lisan saja. Akan tetapi, kita sebagai umat yang beriman kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW, seharusnya kita mencontoh teladannya Rasulullah SAW. Karena itu semua adalah merupakan perintah dari Allah, sesuai dengan surat Aali-'Imran - QS.3 ayat 31-32, yaitu :

Katakanlah, " Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu serta mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun, lagi Maha Penyayang ".
Katakanlah, " Taatlah kamu kepada Allah dan Rasulnya, tetapi jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tiada menyukai orang-orang kafir ".

Rasulullah SAW berjumpa dengan Allah pada saat Beliau melaksanakan M'iraj, oleh karena itu seharusnya kita juga berusaha mencari tahu bagaimana cara melaksankan Mi'raj untuk menemui-Nya. Dapatkah kita sebagai manusia biasa mampu menemui Dzat Allah SWT saat masih hidup di dunia ini ?

Kita perhatikan surat Al-Kahfi - QS.18 ayat 110, yaitu :

Katakanlah, " Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwa Tuhan kamu hanyalah Tuhan Yang Esa. Maka barang siapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah dia mengerjakan amal saleh dan janganlah dia mempersekutukan Tuhannya dalam beribadah dengan seorangpun ".

Kemudian kita perhatikan dalam firman Allah surat Al-Israa' - QS.17 ayat 1, yaitu :

" Maha suci Allah yang memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang Kami berkahi sekelilingnya agar kami memperlihatkan kepadanya sebahagian tanda-tanda Kami. Sesungguhnya Dia Maha Pendengar lagi Maha Melihat."

Kalimat " Maha suci Allah yang memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam " bermakna bahwa Allah akan memperjalankan bagi siapa saja yang Allah kehendaki. Siapakah mereka itu ?
Mereka adalah orang-orang yang sangat mengharapkan perjumpaan dengan Allah ( Liqaa Allah ), berbuat amal saleh dan tidak menyekutukan-Nya.
Rasulullah SAW menjumpai Allah SWT pada saat melakukan mi'raj dan ini berarti juga kita harus mencontoh Rasulullah SAW dalam menemui Allah SWT. Ilmu mengenai hal tersebut ialah Ma'rifattullah ( Ilmu mengenal Allah ).

Hadis Rasulullah SAW : " Ma'rifat adalah modalku "

Sedikit sekali manusia yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya pada saat masih hidup di dunia, hal ini sesuai dengan firman Allah Ar-Ruum (QS.30 ayat 7-8) yaitu :

" Mereka mengetahui sesuatu yang tampak dari kehidupan di dunia, sedang mereka lalai tentang kehidupan akhirat "
" Dan tidaklah mereka memikirkan tentang diri mereka ? Allah tiada menjadikan langit dan bumi dan apa-apa di antara keduanya melainkan dengan sebenarnya dan waktu tertentu.

DAN SESUNGGUHNYA KEBANYAKAN MANUSIA INGKAR TERHADAP PERTEMUAN DENGAN TUHANNYA

Dilanjutkan dalam surat Yuunus (QS.10 ayat 7-11), yaitu :

" Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami,

" Mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.

" Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh mereka diberi petunjuk oleh Tuhan karena keimanannya... "

" Maka Kami biarkan orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami itu bimbang di dalam kesesatannya. "

Perjumpaan itu pasti akan terjadi sesuai dengan firman Allah dalam surat Al-'Ankabuut - QS.29 ayat 5, yaitu :

" Barangsiapa yang mengharapkan pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu Allah pasti datang. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. "

Dan surat Al-Insyiqaaq (QS.84 ayat 6), yaitu :

" Hai manusia, sesungguhnya engkau berusahalah sungguh-sungguh menuju kepada Tuhanmu, maka engkau akan menemui-Nya. "

Kesimpulan ; Seluruh ayat-ayat yang tercantum di atas merupakan bukti bahwa seorang manusia dikatakan telah beriman bila dia telah melaksanakan persaksian kembali dengan menyaksikan Dzat Allah

(Bersyahadat seperti yang dilakukan oleh Nabi Mulia Muhammad Saw).

" INNANII ANALLAAHU LAA ILAAHA ILLAA ANA FA' BUDNI WA AQIMISH SHALAATA LI DZIKRII "
Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan melainkan Aku, Maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku

Shalat adalah merupakan perintah Allah agar kita mengingat Dzat-Nya, hal ini sesuai dengan firman allah dalam surat Thaahaa (QS.20 ayat 14) yaitu 

" Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan melainkan Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku "

Pada kata : " Untuk mengingat-Ku " di dalam ayat tersebut di atas, bermakna bahwa sebenarnya ada sesuatu yang terlupakan oleh manusia setelah lahir di dunia ini, yaitu mengingat kembali perjumpaan kita dengan Dzat Allah.
Sebenarnya kita pernah berjumpa dengan Dzat Allah, bahkan kita pernah bersyahadat di hadapan-Nya saat berada di alam ruh. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat Al-A'raaf (QS.7 ayat 172-173), yaitu : Ayat 172 :

" Dan ketika Tuhanmu menjadikan keturunan Bani Adam dari tulang punggung mereka dan Allah mengambil kesaksian atas diri mereka, "Bukankah Aku ini Tuhanmu ?" mereka menjawab, "Betul, kami menjadi saksi." Yang demikian supaya kamu tidak mengatakan di hari kiamat, "Sesungguhnya kami orang-orang yang lalai tentang ini" Ayat 173 :

" atau agar kamu tidak mengatakan, "Sesungguhnya bapak-bapak kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang sesudah mereka..... "

Lalu Allah menurunkan petunjuk berupa kitab Al-quran untuk dibaca, dipahami dan diamalkan, agar manusia bisa kembali mengingat Dzat-Nya. Hal ini sesuai dengan surat Al-A'raaf (QS.7 ayat 174), yaitu :

" Dan demikianlah Kami jelaskan ayat-ayat itu dan supaya mereka kembali. "

Kebanyakan dari manusia pada saat melakukan ibadah shalat berniat untuk menyembah Allah SWT,

namun kenyataannya setelah mengucapkan Takbiratul ihram yang kita ingat adalah bermacam-macam pikiran ( mulai dari pikiran kosong hingga hal-hal yang berisfat keduniawian ) dan ini berarti pada saat kita seharusnya menyembah Tuhan justru kita menyekutukan Tuhan.
Hal ini dilarang oleh Allah SWT, sesuai dengan surat Al-Jinn (QS.72 ayat 18), yaitu :

"......, maka janganlah kamu menyembah seorangpun selain Allah."

Selanjutnya kita kaji firman Allah dalam surat Al-Maa'uun (QS.107 ayat 4-6), yaitu :

" Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat "
" (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya "
" orang-orang yang riya "

Celakalah bagi orang-orang yang shalat karena lalai pada saat shalat mereka tidak menyembah Dzat Allah SWT. Hal ini bisa terjadi karena orang-orang tersebut belum pernah atau tidak mau mengenal Dzat-Nya pada saat hidup di dunia. Oleh sebab itu, kita diwajibkan mengenal kembali Dzat Allah SWT (Bersyahadat : Melaksanakan kesaksian, QS.70 ayat 33).

Hal ini sangat penting agar kita bisa benar-benar khusyu' di dalam shalat sesuai dengan firman Allah dalam surat Al-Baqarah (QS.2 ayat 45-46), yaitu :

" Dan mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat ; dan sesungguhnya shalat itu berat, kecuali atas orang-orang yang khusyu' ,

" (yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menjumpai Tuhan mereka dan sesungguhnya mereka akan kembali kepada-Nya "

" Haji adalah panggilan Allah untuk menemui-Nya, yang diwajibkan bagi manusia yang mampu mengadakan perjalanan kepada-Nya "

Untuk memahami rukun Islam tentang haji, kita wajib melaksanakan rukun Islam sebelumnya, yaitu bersyahadat (melaksanakan kesaksian - QS.70 ayat 33 ) yang benar.
Pada saat umat Islam mengadakan perjalanan menuju Baitullah, mereka mengumandangkan kalimat Talbiyah yang artinya :

" Ya Allah aku datang memenuhi panggilanMu "
Perjalanan haji adalah merupakan ibadah napak tilas Nabi Adam AS dalam melakukan perjumpaan dengan Kekasihnya atau yang dimaksud dengan Kekasih sejati adalah Allah itu sendiri.
Pada kalimat Talbiyah mengandung makna bahwa Allah memanggil kita untuk menemuinya atau berjumpa dengan Dzat Allah seperti yang pernah dilakukan oleh Nabi Adam AS. Seharusnya bila kita diundang, maka kita wajib datang dan menjumpai yang mengundang.

Jika saudara berniat mendapatkan cahaya tauhid yang sebenar-benarnya kami siap menghantarkan untuk bisa bermusyahadah / menyaksikan dengan haqqul yakiin. (bukan sekedar wacana).

Dengan modal

Mau membuka diri, Sungguh-sungguh dan Berdoa mengharap perjumpaan dengan Allah SWT.

saudara akan merasakan, mengalami keislaman sekaligus mendapatkan karunia yang besar. Sehingga saudara yang selama ini hanya menjalani islam (berada di jalan berarti belum sampai pada tujuan) bila sudah mengalami keislaman berarti saudara telah sampai dan menemukan hakekat yang sejati ( islam yang tunduk dan berserah diri / pantas disebut muslim sejati).

Salam Bahagia

MJ

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked with *


0 Komentar

?>